Sunday, October 11, 2015

ASAP OH ASAP

Penggunaan lahan yang ada di Provinsi Jambi, alih fungsi lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit dan HTI, yang motifnya adalah untuk kepentingan ekonomi tanpa mempertimbangkan aspek ekologi. Pembukaan lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit dan HTI telah menghilangkan fungsi hutan gambut sebagai pemasok baha-bahan yang bernilai ekonomi  serta akan menurunkan fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi, satwa langka dan tumbuhan penting, komunitas dan ekosistem. Sayangnya Perusahan yang berkontribusi atas terjadinya kerusakan dilahan gambut hanya melakukan tindakan insidentil juga tanpa memperbaiki tata kelola air atau drainase di daerah operasinya. Kemudian lahan yang telah terdegradasi juga sebagai penyumbang terjadi kebakaran hutan dan lahan, betapa tidak fenomena pemberian izin tambang, HPH/HTI yang telah menggerus fungsi hutan sebagai sumber air tidak lagi menjalankan fungsinya. (Kompasiana.com)


Hal tersebut menjadi krisis karna tidak ada satupun pemerintahan yang mau bertanggung jawab, baik dari kedaerahan maupun kenegaraan. Hal tersebut disebutkan oleh banyak khalayak yang menulis comment dan meminta tolong pada berbagai macam public pada social media seseoerang yang seharusnya tidak berkepentingan untuk mengurus hal tersebut.

Pada halnya yang terdapat pada instagram Annisa Yudhoyono atau menantu dari mantan presiden Indonesia yakni Susilo Bambang Yudhoyono. Pada salah satu postingannya terdapat salah satu pengguna akun instagram yang bernama “tiarayudiah” tersebut meminta pertolongan pada Mbak Annisa untuk menyampaikan kepada bapak SBY apa yang sedang dirasakan warga-warga yang sedang berada pada kota Riau tersebut.

Mereka meminta tolong untuk secepatnya diselsaikan masalah perasapan tersebut karna sudah amat menggangu, baik untuk aktifitas sehari-hari bahkan juga untuk kesehatan yang terus menurus menuntut mereka untuk memakai penutup (masker) agar asap terbseut tidak terhirup dan seakan tidak berbahaya. Yang sebenarnya asap tersebut sangat berbahaya untuk kesehatan apalagi alat pernafasan.



pada postingnya dia memberikan suntingnya seperti berikut,

Ada yang bisa tolong sampaikan ke pihak yg berkepentingan sekarang?
Karena ini bukan wewenang bapak SBY lagi, tapi saya sangat prihatin dengan banyaknya aduan dan curahan hati yang masuk di Socmed saya. Saya tidak kebayang kalau anak saya yang masih kecil harus menghirup asap beracun seperti itu.
Saran saya pengalaman masa SBY dulu, dibuat hujan buatan agar asap berkurang.
Mohon disampaikan kepada yang punya wewenang atas curahan hati rakyat Riau dan sekitarnya. Doa kami menyertai semua saudara-saudara yang terkena bencana ini, semoga mereka diberi kekuatan dalam
#melawanasap . Terima kasih (Posting saya ini hanya mewakili salah satu dari banyak curahan saudara-saudara kita yang masuk di socmed saya, mohon empatinya dan berpikir positif. Untuk yang memaki dan menyalahkan salah satu pihak mohon untuk memberikan masukan dengan cara yang baik)”


Pada hal seperti ini hal apa yang seharusnya kita lakukan, seburuk inikah pengendalian para petinggi negara sehingga masyarakatnya lebih mempercayai mantan presidennya dibandingkan sang presiden yang sedang menjabat periode tahun ini?

Atau dari pemerintahankah yang benar-benar buruk sehingga tidak dapat mengendalikan kebakaran dan asap yang ada yang sampai saat ini semakin menjalar dan tak kunjung padam?

Ancaman tersebut sudah mendapati titik krisis, karna didalamnya terdapat ancaman sosial, aktivitas maupun bisnis yang terjadi baik didalam NKRI sendiri maupun pada Negara tetangga (Malaysia dan Singapur).

Bagaimana tidak, asap yang semakin menjalar menuju kota jambi dan terus berhembus sehingga bertempat pada Negara tetangga, yang jelas sangat menggangu aktivitas diluar sana. Serta apakah kebakaran yang terjadi tidaklah menjadi bahan pemikiran pebisnis diluar sana untuk melakukan suatu bisnis di negri yang kaya akan rempah-rempah ini?

No comments:

Post a Comment